Menggunakan gerak-gerik,  mimik, dan intonasi, sesuai dengan watak

Menggunakan gerak-gerik,  mimik, dan intonasi, sesuai dengan watak tokoh dalam pementasan drama 

 

 A. Pentas Drama

 Gambar

 

Teori Drama/Teater

 

Dari Teori hingga Pementasan Drama

 

Proklamasi di Panggung Teater  

JAKABARING – Pentas teater yang digagas kelompok Teori Drama Universitas PGRI Palembang dalam rangka memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-62 yang mementaskan “Laskar Godlob” karya Danarto, Jumat-Sabtu, 3—4 Agustus 2007, di Graha Budaya Jakabaring, berhasil menyedot ratusan penonton dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan umum.

Pentas perdana yang dilakukan secara swadana oleh mahasiswa Pend Bahasa Indonesia FKIP Universitas PGRI Palembang ini bertambah semarak dengan kehadiran UKM Teater GABI’91 Universitas Sriwijaya, Jumat, (3/8) yang memanggungkan karya kelompok sendiri berjudul “Wajah”. Sementara Teater Puncak yang tampil kemarin (4/8) dengan mengusung lakon “Pertarungan” karya Wolfman Kowitz.

Dekan FKIP Universitas PGRI Drs H Syarwani Ahmad, dalam sambutannya hanya menekankan teknis acara. “Hal–hal bersifat teknis seperti sound system harus diperhatikan,” kilahnya sebelum pentas dimulai.

Minimnya respons lembaga pendidikan terhadap kegiatan tertentu, tidak menyurutkan semangat mahasiswa tersebut untuk menggiring penonton ke gedung pertunjukan. “Bapak yang di kampus (Universitas PGRI, red) ngomongke, katonyo kami nak swadana. Tepakso kami ngais-ngais dulu, mako pacak ado bukti, boro-boro nak danai, minta tando tangan bae saro. Ai mak itu lah galo ruponyo wong tu amun nak maju. Berejolah, kami nak nyambut proklamasi di panggung teater. ” tutur Romai, mahasiswa semester 4 Pend Bahasa Indonesia FKIP Univ PGRI yang tidak mau proses mereka disepelekan.

Kisah “Laskar Godlob” yang dipentaskan Teori Drama Universitas PGRI Palembang bermula orang tua menarik mundur anaknya dari medan perang, melindunginya dari moncong senapan dan paruh gagak, kemudian membunuhnya agar kelak dapat dijadikan sebagai pahlawan. Menjelang proses pengukuhan, sosok perempuan memprotes suaminya dan para penguasa bahwa anaknya itu bukanlah pahlawan, tapi mati di tangan ayahnya sendiri.

Panggung realis minimalis dengan sedikit sentuhan surealis, seakan memberi ruang penonton untuk menafsir sendiri makna profetik yang disimbolkan dalam peperangan. Irama musik klasik yang dipoles nada dari dawai biola menambah satir suasana panggung.

Terpisah, Ketua UKM Teater GABI’91 Unsri, Halley Kawistoro di sela-sela acara mengatakan, kegiatan tersebut sebagai ajang kreativitas seni yang disuguhkan mahasiswa terhadap keadaan yang hangat dibicarakan masyarakat. “Di samping itu, pentas drama ini merupakan ruang apresiasi bagi para pelajar dan mahasiswa,” ungkap Halley. Dalam penggarapan kisahnya, UKM Teater GABI’ 91 Unsri memindahkan proses latihan teater ke atas panggung dalam lakon “Wajah” karya M Yunus. Peran di balik peran, teater di balik teater, kehidupan di balik kehidupan, itulah simbol yang diisyaratkan teater kampus di Sumsel yang tetap eksis hingga kini.

Teater Puncak pun tak ketiggalan dengan dua pemain, Surono dan Ag Lilik N yang menampilkan naskah “Pertarungan” karya Wolfman Kowitz. Dalam kisahnya mengangkat polemik antara tokoh Homo dan Psiko seputar fantasi dan kenyataan yang sering kita agung-agungkan. “Inilah keramahan dunia Timur…Ayo, masuk, silakan duduk. Mari minum…kuenya dimakan. Bah! Dongeng melulu, tidak ada yang nyata..”

Sementara itu, Efvhan Fajrullah, seniman yang juga anggota Komite Teater Dewan Kesenian Palembang mengatakan, keberanian mahasiswa menyiapkan pertunjukan itu sebenarnya yang memberikan ruang tersendiri bagi perkembangan teater sebelum masuk pada wilayah estetika. “Saya salut pada adik-adik atas keberaniannya membuat pementasan teater, karena di sini (Palembang, red) masih jarang dijumpai,” tuturnya. (*)

SND Undang Senyum Penonton

PALEMBANG – Geliat mahasiswa berkesenian kembali bakal menundang senyum penonton drama pentas di metropolis. Pasalnya, enam pertunjukan bertajuk Semarak Nuansa Drama (SND) akan digelar mahasiswa semester lima Prodi Pend Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pend Bahasa dan Seni (JPBS) FKIP Universitas PGRI Palembang, Kamis—Sabtu (31/1—2/2), pukul 14.00—17.00 WIB, di Graha Budaya Jakabaring.

Ketua Jurusan Dra Yenny Puspita MPd, didampingi Kaprodi Dra Hj Siti Rukiah MPd, pada rapat koordinasi (rakor) panitia, Senin (28/1) lalu, mengutarakan, kegiatan ini merupakan pentas akbar yang digagas mahasiswanya. “Baru kali kedua mahasiswa kita (JPBS, red) melakukan  pentas drama di luar kampus dan disaksikan oleh publik,” papar Yenny tak kuasa menahan senyum.

Senada dikatakan Singgih Harun, ketua panitia dengan senyum bersambut, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi seni bagi masyarakat. Selain itu, sebagai kontribusi kecil menyemarakkan Visit Musi 2008.  “SND bisa jadi ajang peningkatan kreativitas dan apresiasi seni. Pecak dak langsung, kami pengen (mahasiswa, red) melok pulo meramike Visit Musi, jingok bae tiket pentas kami ado gambar Ampera,” ujar komedian kampus itu dengan improvisasi menawarkan tiket masuk seharga Rp3 ribu untuk 1 orang sekali pertunjukan.

Sementara, tambah Singgih, lakon yang akan dipentaskan, yaitu: “Atas Nama Bawah” dan “Baby” karya Efvhan Fajrullah, “Patung” dan “Kursi” (Anwar Putra Bayu), “Sang” (Toton Dai Permana), serta “Kasarung” (W Hermana HMT). (*)

Berani Pentas Teater di Luar Kampus

            PALEMBANG – Untuk kali kedua mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas PGRI Palembang,  Kamis (31/1) hingga Sabtu (2/2) menggelar pentas Semarak Nuansa Drama 2005 (SND ’05) di Graha Budaya Jakabaring.

“Pementasan ini merupakan hasil karya mahasiswa sendiri dalam mengimplementasikan materi pelajaran yang didapat di bangku kuliah untuk dipentaskan di panggung dan disaksikan penonton. Semuanya dinilai dalam pelaksanaan ujian semester mata kuliah pementasan drama dan teater,” ujar Liza Murnivianti SPd, dosen pementasan drama dan teater.

            Dalam pementasan drama ini, kata Liza, semuanya adalah mahasiswa semester lima berasal dari enam kelas. “Diharapkan dari pementasan ini, muncul bakat-bakat yang terpendam sehingga ada regenerasi terutama bidang seni,” harap Liza.

            Dalam mengekspresikan penguasaan panggung, karakter dan alur cerita serta penjiwaan dapat meletupkan emosi dan ekspresi penonton. Tegang, teriakan histeris, hingga tertawa pun membahana dalam gedung pertunjukan tersebut.

Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari yang berakhir Sabtu (2/2), menampilkan enam lakon, yaitu “Atas Nama Bawah” dan “Baby” karya Efvhan Fajrullah, “Patung” dan “Kursi” (Anwar Putra Bayu), “Sang” (Toton Da’i Permana), serta “Kasarung” (W Hermana HMT).

            Pemahaman alur cerita memang dikuasai para pemain, namun ada beberapa lakon yang masih sulit dimengerti (absurd, red) oleh penonton yang berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa, di antaranya SMPN 4, SMAN 15, SMA Tunas Bangsa, Unsri, dan lainnya. Namun sebanyak 1.400 penonton tetap saja larut dalam apresiasi pementasan tersebut.

            Sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang hangat diperbincangkan banyak kalangan, masalah yang mencolok adalah pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) beserta adegan-adegan konflik lainnya.

            Inilah yang diangkat salah satu kelompok yang digawangi Dedi Damhudi selaku sutradara kelas 5C, dibantu Dwi Apriyadi, wakil sutradara, dalam menggarap “Kursi” yang diadopsi dari karya Anwar Putra Bayu. Lakon ini mengisahkan perebutan kursi jabatan para calon pemimpin.

             Tokoh-tokoh dalam lakon itu, tutur Dwi, saling jegal dengan ikon tarik-menarik kursi. Saling cekcok, saling pukul, dan saling tendang sehingga suasana terlihat gaduh dan mencekam. Karakter iringan musik pun ikut larut dengan suasana. Para pemimpin pun merasa jenuh dan berat dalam memegang tampuk jabatan. Mereka sendiri merasa tidak berhasil dengan  amanah tugas yang diembannya sehingga banyak rakyat kecil yang dirugikan.

Akhirnya, sang pemimpin mencopot sendiri jabatannya. Bahkan menilai dirinya gagal dalam menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin. Alasannya, banyak rakyat kecil yang masih susah dan perlu diperhatikan. Akhirnya, kursi jabatan pemimpin menjadi kosong. Dengan kata lain, tidak mudah untuk jadi pemimpin.

“Secara keseluruhan isi cerita, kita ingin memberikan gambaran bahwa menjadi pemimpin itu tidak mudah, banyak cobaan dan rintangan yang harus dihadapi. Selain itu, dalam persaingan menuju pucuk pimpinan, tidak perlu menggunakan kekerasan fisik dan cara culas lainnya. Yang penting adalah pemikiran logis dan menyejahterakan masyarakat,” simpul Dedi diamini Dwi. (*)

 

 

 

B. Tugas / Kegiatan siswa

 

  • Siswa membaca drama. (kecakapan hidup: menggali informasi).
  • Siswa menghayati watak tokoh. (kecakapan hidup: kesadaran akan        potensi diri).
  • Siswa memerankan drama. (kecakapan hidup: bermain drama).
  • Siswa mendiskusikan pemeranan drama. (kecakapan hidup: komunikasi          lisan).

 

 

C. Kegiatan mandiri

                     

     Siswa diminta menyebutkan cirri-ciri pemeranan suatu tokoh yang baik

 

 

 

 

 D. Evaluasi

 

  1. 1.              Bacalah teks drama!
  2. 2.              Hayatilah penokohannya!
  3. 3.              Perankan drama tersebut

 

 

E. Sumber bahan   

  • Waluyo, Herman J. 2003. Drama: Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta: Hanindhita Graha Widia.
  • Ign. Sukasworo,dkk. Bahasa Indonesia: Mutiara gramatika Bahasa dan sastra Indonesia. Jakarta: Piranti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s