Menjelaskan Alur Cerita, Pelaku dan Latar Novel (asli atau terjemahan)

Menjelas­kan alur ceri­ta, pelaku, dan latar no­vel (asli atau terjemahan)

Unsur pembangun novel terdiri atas unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur yang langsung turut membangun cerita dari dalam disebut unsur instrinsik. Unsur-unsur instrinsik antara lain tokoh, penokohan, alur, latar, pusat pengisahan,gaya bahasa dan tema. Adapun unsur ekstrinsik adalah sikap dan pesan (amanat) yang ingin disampaikan pengarang.

 

1. Alur

 

Alur atau plot merupakan pola pengembangan cerita yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat. Pola alur dalam novel atau cerita tidak seragam. Dalam satu jenis alur terdapat periode-periode berikut:

(1) Pengenalan situasi cerita, babak awal;

(2)  Pengungkapan peristiwa;

(3)  Menuju pada konflik;

(4)  Puncak konflik;

(5)  Penyelesaian

 

Berdasarkan periode-periode tersebut, pola pengembangan alur dapat dibedakan atas:

a.  Alur maju : (1), (2),(3),(4),(5)

b.  Alur sorot balik: (5),(4),(3),(2),(1)

c.  Alur maju mundur: (4),(5),(1),(2),(3)

 

2.  Pelaku/tokoh dan penokohan

 

Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perilaku di dalam berbagai peristiwa di dalam cerita. Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita/novel. Penokohan juga dapat dikatakan sebagai proses penampilan tokoh dengan pemberian watak, sifat, atau kebiasaan tokoh.

 

Tokoh dalam cerita dapat dibedakan atas:

a. Tokoh protagonis, yaitu tokoh utama

b. Tokoh antagonis, yaitu tokoh lawan dari tokoh protagonis.

c.  Tokoh tritagonis, yaitu tokoh penengah bagi tokoh protagonist dan antagonis.

 

Adapun cara pengarang menggambarkan karakter (watak) seorang tokoh, dapat menggunakan:

 

a. Teknik analitik, yaitu karakter tokoh yang diceritakan secara langsung oleh  pengarang

 

b.  Teknik dramatik, yaitu karakter tokoh dikemukakan melalui:

1)  Penggambaran fisik dan perilaku tokoh

2)  Penggambaran lingkungan kehidupan tokoh

3)  Penggambaran tata kebahasaan tokoh

4)  Mengungkapkan jalan pikiran tokoh

5)  Penggambaran oleh tokoh lain

 

3.  Latar

Latar adalah unsur dalam suatu cerita yang menujukkan di mana, bagaimana, dan kapan peristiwa-peristiwa dalam kisah itu berlangsung. Latar ada 3 macam yaitu, tempat, waktu, dan sosial.

Latar tempat adalah hal-hal yang berkaitan dengan masalah geografis. Latar waktu adalah hal-hal yang berkaitan dengan masalah-masalah historis atau waktu, sedangkan latar social adalah latar yang berhubungan dengan kehidupan kemasyarakatan.

MENULIS PUISI

Menulis Puisi Bebas dengan Memperhatikan Unsur Persajakan

 

            puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya. Untuk dapat membuat puisi dengan baik, kita harus memerhatikan unsur fisik dan unsur batin puisi. Struktur fisik puisi meliputi:

  1. Diksi (diction)
  2. Pencitraan
  3. Kata konkret (the concentrate word)
  4. Majas (figurative language)
  5. Bunyi yang menghasilkan rima dan ritma (rhyme and rytem)

GambarAdapun struktur batin meliputi:

  1. Perasaan (feeling)
  2. Tema (sense)
  3. Nada (tone)
  4. Amanat (atention)

            Kemampuan untuk mengolah kata menjadi sebuah puisi yang indah akan dapat dikuasai jika kita sering berlatih. Selain itu, kita juga dapat belajar membuat puisi dengan membaca puisi karya penyair Indonesia dan dunia.

 

Langkah awal yang perlu dilakukan untuk menulis puisi bebas adalah sebagai berikut:

a.  mengamati objek, lalu mendata objek yang akan dijadikan bahan penulisan puisi;

b.  mendeskripsikan objek dengan kata-kata yang puitis;

c.  menulis puisi dengan menggunakan pilihan kata yang tepat;

d.  menyunting sendiri pilihan kata yang terdapat di dalam puisi yang di tulis agar puitis.

 

Langkah yang perlu diperhatikan dalam menulis puisi bebas dengan memperhatikan unsur persajakan adalah sebagai berikut.

a.  membaca berbagai jenis puisi untuk mendaftar topik yang akan diangkat;

b.  bertanya jawab untuk menentukan puisi yang akan ditulis;

c.  mengamati objek dan mendata objek yang akan dipuisikan;

d.  mendeskripsikan objek dalam larik-larik yang bersifat puitis;

e.  menulis puisi dengan memperhatikan unsure persajakan;

f.  menyunting sendiri puisi yang ditulis sendiri.

Menggunakan gerak-gerik,  mimik, dan intonasi, sesuai dengan watak

Menggunakan gerak-gerik,  mimik, dan intonasi, sesuai dengan watak tokoh dalam pementasan drama 

 

 A. Pentas Drama

 Gambar

 

Teori Drama/Teater

 

Dari Teori hingga Pementasan Drama

 

Proklamasi di Panggung Teater  

JAKABARING – Pentas teater yang digagas kelompok Teori Drama Universitas PGRI Palembang dalam rangka memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-62 yang mementaskan “Laskar Godlob” karya Danarto, Jumat-Sabtu, 3—4 Agustus 2007, di Graha Budaya Jakabaring, berhasil menyedot ratusan penonton dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan umum.

Pentas perdana yang dilakukan secara swadana oleh mahasiswa Pend Bahasa Indonesia FKIP Universitas PGRI Palembang ini bertambah semarak dengan kehadiran UKM Teater GABI’91 Universitas Sriwijaya, Jumat, (3/8) yang memanggungkan karya kelompok sendiri berjudul “Wajah”. Sementara Teater Puncak yang tampil kemarin (4/8) dengan mengusung lakon “Pertarungan” karya Wolfman Kowitz.

Dekan FKIP Universitas PGRI Drs H Syarwani Ahmad, dalam sambutannya hanya menekankan teknis acara. “Hal–hal bersifat teknis seperti sound system harus diperhatikan,” kilahnya sebelum pentas dimulai.

Minimnya respons lembaga pendidikan terhadap kegiatan tertentu, tidak menyurutkan semangat mahasiswa tersebut untuk menggiring penonton ke gedung pertunjukan. “Bapak yang di kampus (Universitas PGRI, red) ngomongke, katonyo kami nak swadana. Tepakso kami ngais-ngais dulu, mako pacak ado bukti, boro-boro nak danai, minta tando tangan bae saro. Ai mak itu lah galo ruponyo wong tu amun nak maju. Berejolah, kami nak nyambut proklamasi di panggung teater. ” tutur Romai, mahasiswa semester 4 Pend Bahasa Indonesia FKIP Univ PGRI yang tidak mau proses mereka disepelekan.

Kisah “Laskar Godlob” yang dipentaskan Teori Drama Universitas PGRI Palembang bermula orang tua menarik mundur anaknya dari medan perang, melindunginya dari moncong senapan dan paruh gagak, kemudian membunuhnya agar kelak dapat dijadikan sebagai pahlawan. Menjelang proses pengukuhan, sosok perempuan memprotes suaminya dan para penguasa bahwa anaknya itu bukanlah pahlawan, tapi mati di tangan ayahnya sendiri.

Panggung realis minimalis dengan sedikit sentuhan surealis, seakan memberi ruang penonton untuk menafsir sendiri makna profetik yang disimbolkan dalam peperangan. Irama musik klasik yang dipoles nada dari dawai biola menambah satir suasana panggung.

Terpisah, Ketua UKM Teater GABI’91 Unsri, Halley Kawistoro di sela-sela acara mengatakan, kegiatan tersebut sebagai ajang kreativitas seni yang disuguhkan mahasiswa terhadap keadaan yang hangat dibicarakan masyarakat. “Di samping itu, pentas drama ini merupakan ruang apresiasi bagi para pelajar dan mahasiswa,” ungkap Halley. Dalam penggarapan kisahnya, UKM Teater GABI’ 91 Unsri memindahkan proses latihan teater ke atas panggung dalam lakon “Wajah” karya M Yunus. Peran di balik peran, teater di balik teater, kehidupan di balik kehidupan, itulah simbol yang diisyaratkan teater kampus di Sumsel yang tetap eksis hingga kini.

Teater Puncak pun tak ketiggalan dengan dua pemain, Surono dan Ag Lilik N yang menampilkan naskah “Pertarungan” karya Wolfman Kowitz. Dalam kisahnya mengangkat polemik antara tokoh Homo dan Psiko seputar fantasi dan kenyataan yang sering kita agung-agungkan. “Inilah keramahan dunia Timur…Ayo, masuk, silakan duduk. Mari minum…kuenya dimakan. Bah! Dongeng melulu, tidak ada yang nyata..”

Sementara itu, Efvhan Fajrullah, seniman yang juga anggota Komite Teater Dewan Kesenian Palembang mengatakan, keberanian mahasiswa menyiapkan pertunjukan itu sebenarnya yang memberikan ruang tersendiri bagi perkembangan teater sebelum masuk pada wilayah estetika. “Saya salut pada adik-adik atas keberaniannya membuat pementasan teater, karena di sini (Palembang, red) masih jarang dijumpai,” tuturnya. (*)

SND Undang Senyum Penonton

PALEMBANG – Geliat mahasiswa berkesenian kembali bakal menundang senyum penonton drama pentas di metropolis. Pasalnya, enam pertunjukan bertajuk Semarak Nuansa Drama (SND) akan digelar mahasiswa semester lima Prodi Pend Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pend Bahasa dan Seni (JPBS) FKIP Universitas PGRI Palembang, Kamis—Sabtu (31/1—2/2), pukul 14.00—17.00 WIB, di Graha Budaya Jakabaring.

Ketua Jurusan Dra Yenny Puspita MPd, didampingi Kaprodi Dra Hj Siti Rukiah MPd, pada rapat koordinasi (rakor) panitia, Senin (28/1) lalu, mengutarakan, kegiatan ini merupakan pentas akbar yang digagas mahasiswanya. “Baru kali kedua mahasiswa kita (JPBS, red) melakukan  pentas drama di luar kampus dan disaksikan oleh publik,” papar Yenny tak kuasa menahan senyum.

Senada dikatakan Singgih Harun, ketua panitia dengan senyum bersambut, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi seni bagi masyarakat. Selain itu, sebagai kontribusi kecil menyemarakkan Visit Musi 2008.  “SND bisa jadi ajang peningkatan kreativitas dan apresiasi seni. Pecak dak langsung, kami pengen (mahasiswa, red) melok pulo meramike Visit Musi, jingok bae tiket pentas kami ado gambar Ampera,” ujar komedian kampus itu dengan improvisasi menawarkan tiket masuk seharga Rp3 ribu untuk 1 orang sekali pertunjukan.

Sementara, tambah Singgih, lakon yang akan dipentaskan, yaitu: “Atas Nama Bawah” dan “Baby” karya Efvhan Fajrullah, “Patung” dan “Kursi” (Anwar Putra Bayu), “Sang” (Toton Dai Permana), serta “Kasarung” (W Hermana HMT). (*)

Berani Pentas Teater di Luar Kampus

            PALEMBANG – Untuk kali kedua mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Seni, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas PGRI Palembang,  Kamis (31/1) hingga Sabtu (2/2) menggelar pentas Semarak Nuansa Drama 2005 (SND ’05) di Graha Budaya Jakabaring.

“Pementasan ini merupakan hasil karya mahasiswa sendiri dalam mengimplementasikan materi pelajaran yang didapat di bangku kuliah untuk dipentaskan di panggung dan disaksikan penonton. Semuanya dinilai dalam pelaksanaan ujian semester mata kuliah pementasan drama dan teater,” ujar Liza Murnivianti SPd, dosen pementasan drama dan teater.

            Dalam pementasan drama ini, kata Liza, semuanya adalah mahasiswa semester lima berasal dari enam kelas. “Diharapkan dari pementasan ini, muncul bakat-bakat yang terpendam sehingga ada regenerasi terutama bidang seni,” harap Liza.

            Dalam mengekspresikan penguasaan panggung, karakter dan alur cerita serta penjiwaan dapat meletupkan emosi dan ekspresi penonton. Tegang, teriakan histeris, hingga tertawa pun membahana dalam gedung pertunjukan tersebut.

Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari yang berakhir Sabtu (2/2), menampilkan enam lakon, yaitu “Atas Nama Bawah” dan “Baby” karya Efvhan Fajrullah, “Patung” dan “Kursi” (Anwar Putra Bayu), “Sang” (Toton Da’i Permana), serta “Kasarung” (W Hermana HMT).

            Pemahaman alur cerita memang dikuasai para pemain, namun ada beberapa lakon yang masih sulit dimengerti (absurd, red) oleh penonton yang berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa, di antaranya SMPN 4, SMAN 15, SMA Tunas Bangsa, Unsri, dan lainnya. Namun sebanyak 1.400 penonton tetap saja larut dalam apresiasi pementasan tersebut.

            Sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang hangat diperbincangkan banyak kalangan, masalah yang mencolok adalah pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) beserta adegan-adegan konflik lainnya.

            Inilah yang diangkat salah satu kelompok yang digawangi Dedi Damhudi selaku sutradara kelas 5C, dibantu Dwi Apriyadi, wakil sutradara, dalam menggarap “Kursi” yang diadopsi dari karya Anwar Putra Bayu. Lakon ini mengisahkan perebutan kursi jabatan para calon pemimpin.

             Tokoh-tokoh dalam lakon itu, tutur Dwi, saling jegal dengan ikon tarik-menarik kursi. Saling cekcok, saling pukul, dan saling tendang sehingga suasana terlihat gaduh dan mencekam. Karakter iringan musik pun ikut larut dengan suasana. Para pemimpin pun merasa jenuh dan berat dalam memegang tampuk jabatan. Mereka sendiri merasa tidak berhasil dengan  amanah tugas yang diembannya sehingga banyak rakyat kecil yang dirugikan.

Akhirnya, sang pemimpin mencopot sendiri jabatannya. Bahkan menilai dirinya gagal dalam menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin. Alasannya, banyak rakyat kecil yang masih susah dan perlu diperhatikan. Akhirnya, kursi jabatan pemimpin menjadi kosong. Dengan kata lain, tidak mudah untuk jadi pemimpin.

“Secara keseluruhan isi cerita, kita ingin memberikan gambaran bahwa menjadi pemimpin itu tidak mudah, banyak cobaan dan rintangan yang harus dihadapi. Selain itu, dalam persaingan menuju pucuk pimpinan, tidak perlu menggunakan kekerasan fisik dan cara culas lainnya. Yang penting adalah pemikiran logis dan menyejahterakan masyarakat,” simpul Dedi diamini Dwi. (*)

 

 

 

B. Tugas / Kegiatan siswa

 

  • Siswa membaca drama. (kecakapan hidup: menggali informasi).
  • Siswa menghayati watak tokoh. (kecakapan hidup: kesadaran akan        potensi diri).
  • Siswa memerankan drama. (kecakapan hidup: bermain drama).
  • Siswa mendiskusikan pemeranan drama. (kecakapan hidup: komunikasi          lisan).

 

 

C. Kegiatan mandiri

                     

     Siswa diminta menyebutkan cirri-ciri pemeranan suatu tokoh yang baik

 

 

 

 

 D. Evaluasi

 

  1. 1.              Bacalah teks drama!
  2. 2.              Hayatilah penokohannya!
  3. 3.              Perankan drama tersebut

 

 

E. Sumber bahan   

  • Waluyo, Herman J. 2003. Drama: Teori dan Pengajarannya. Yogyakarta: Hanindhita Graha Widia.
  • Ign. Sukasworo,dkk. Bahasa Indonesia: Mutiara gramatika Bahasa dan sastra Indonesia. Jakarta: Piranti

POKOK-POKOK BERITA DAN IMPLEMENTASINYA

Cara menemukan pokok-pokok berita dan implementasinya

 

Pengertian Berita

            Apa berita itu?  Berita adalah laporan kejadian atau peristiwa atau pendapat yang menarik dan penting disajikan secepat mungkin kepada khalayak melalui media seperti surat kabar, radio, televisi, dan media online internet. Berita dapat juga didefinisikan  pernyataan antarmanusia sebagai pemberitahuan tentang peristiwa atau keadaan atau gagasan yang disampaikan secara tertulis atau lisan, atau dengan isyarat.  

 

Sumber Berita  

            Secara leksikal , sumber berarti asal. Sumber berita mengandung arti asal dari berita atau asal dari  keterangan mengenai peristiwa atau pernyataan manusia.  Ada dua sumber berita yaitu: 

• Peristiwa
Berita dapat bersumber dari peristiwa atau kejadian-kejadian seperti gempa, pertandingan  
olahraga, banjir, kecelakaan lalu lintas, seminar, pameran, dan sebagainya.
• Manusia
Berita dapat bersumber dari pendapat manusia mengenai suatu peristiwa yang disaksikannya atau   pendapat manusia yang tidak disaksikannya.

 

Teras Berita

            Teras berita (lead) adalah bagian berita yang terletak pada alinea pertama sebuah berita dan merupakan bagian dari komposisi atau susunan berita, yaitu terletak setelah judul berita (head) dan sebelum badan berita (news body). Teras berita mempunyai kedudukan yang sangat penting setelah judul berita berkenaan dengan kemenarikan sebuah berita. 

Terdapat lima bentuk teras berita yang umumnya digunakan, yaitu:
1)  teras simpulan (teras berita yang menyimpulkan atau memadatkan),

2)  teras pernyataan (teras berita yang berupa pernyataan),  

3)  teras kutipan (teras berita yang berupa kutipan ucapan seseorang),

4) teras kontras (teras berita yang berisi sesuatu yang bertentangan dengan apa   yang sedang  berlaku di dalam masyarakat), dan 

5) teras ekslamasi (teras berita yang berisi sebuah ungkapan yang menunjukkan jeritan, rasa sakit, dan ungkapan yang sejenis. 

 

Pengertian Pokok-Pokok Berita

 

            Mengungkapkan kembali isi berita tidak berarti mengulang kembali apa yang dibacakan oleh pembaca berita, tetapi kamu cukup menyarikan isi berita. Sari berita sama halnya dengan pokok-pokok penting  dalam berita, yakni seputar pertanyaan 5W + 1H atau yang sering disebut unsur-unsur sebuah berita, dalam banyak literatur  sebuah berita seharusnya berisi hal berikut.  

 

•  What  (apa yang terjadi).                               

•  Who (siapa yang menjadi bahan berita).  

•  Where (dimana peristiwa itu terjadi). 

•  When (kapan peristiwa itu terjadi).  

•  Why (mengapa hal itu terjadi). 

• How (bagaimana jalannya peristiwa itu).

 

Nilai Berita

Sebelum berita dipublikasikan, terdapat empat nilai yang harus dipenuhi oleh sebuah berita yang layak dipublikasikan, yakni:

  • Nilai kecepatan sebuah berita harus cepat. Unsur kecepatan berkenaan dengankeaktualan dan ketepatan waktu. Berita yang sudah terjadi beberapa waktusebelumnya tidaklah memiliki nilai layak muat bagi penerbitan tertentu.

•    Nilai kenyataan

     Nilai kenyataan berkenaan dengan kefaktualan sebuah berita,  berarti berita itu berdasarkan fakta atau kenyataan yang sebenarnya bukan fiksi atau karangan.

  • Nilaikepentingan
    Nilai kepentingan berkenaan dengan sebuah berita yang menyangkut kepentingan orang banyak. Jika sebuah berita menyangkut kepentingan  banyak orang  maka akan bernilai tinggi. Sebaliknya, jika berita tidak menyangkut kepentingan  banyak orang maka tidak akan bernilai tinggi.
  • Nilaikemenarikan
    Kemenarikan dari sebuah berita akan mengundang orang untuk membaca atau mendengar dan atau menonton berita tersebut. Berita dapat menarik apabila bersifat menghibur, bermanfaat, mengandung keganjilan, dan  menyentuh emosi atau menggugah perasaan.

 

Perbedaan berita di radio dengan berita di TV

 

            Memahami berita yang diperdengarkan berbeda dengan memahami berita dari media cetak. Untuk memahami berita yang disampaikan melalui media cetak, kita dapat membacanya. Jika kita belum memahami isi berita, kita dapat mengulangi membaca. Hal ini disebabkan berita dari media cetak berupa tulisan yang dapat  didokumentasikan. Untuk memahami berita radio atau televisi diperlukan konsentrasi yang cukup. Hal ini dikarenakan sifat beritanya hanya dibacakan satu kali atau tidak ada pengulangan. Adapun perbedaan antara berita radio dan berita televisi diuraikan di bawah ini.

  • Berita yang disiarkan melalui radio hanya menyuguhkan aspek audio sehingga kita hanya bisa mendengar  tanpa bisa melihat wajah dan ekspresi penyiar radio.
  • Berita yang disiarkan melalui televisi menyuguhkan aspek audio visual sehingga kita bisa mendengar dan melihat wajah maupun ekspresi penyiar televisi.   

 

 

Tujuan dan manfaat berita radio/TV

 

Tujuan berita radio maupun televisi:

  1. menyampaikan informasi berupa peristiwa penting, aktual, faktual, dan menarik secara cepat sehingga langsung diterima khalayak, dan
  2. dapat bermanfaat untuk kepentingan orang banyak.

 

Berita di radio maupun televisi mempunyai manfaat, diantaranya:

  1. berita yang disajikan melalui radio maupun televisi cepat diterima oleh khalayak dibandingkan berita yang disajikan melalui media cetak, dan
  2. berita di televisi menampilkan rekaman dan gambar yang membuat penonton mengetahui secara detail kejadian yang diberitakan.

 

Teknik Menemukan Pokok-Pokok Berita Radio/Televisi

Pada saat menyimak sebuah berita, tentu Kamu ingin dapat memahami isi berita yang kalian simak. Agar Kamu dapat menyerap informasi yang disampaikan sehingga dapat memahami maksud dari berita tersebut, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyimak berita dari radio atau televisi, yaitu:

  • konsentrasi,
  • memahami pesan pokok tiap kalimat,
  • mencatat hal-hal penting/pokok berita: apa yang diberitakan, di mana peristiwanya, kapan peristiwa tersebut terjadi, mengapa hal tersebut terjadi, dan bagaimana hal tersebut terjadi, dan
  • merumuskan isi berita dengan cara mendeskripsikan pokok-pokok berita yang telah dicatat. 

 Gambar

 

 

MAKALAH SEMINAR PENDIDIKAN

Pembelajaran Menulis Argumentasi dengan Model Point Counter Point

Liana
Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 12 Palembang

ABSTRAK

Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang produkif sehingga dengan menulis siswa dapat menghasilkan sesuatu yang berupa pesan ataupun informasi kepada orang lain. Dalam keterampilan menulis terutama menulis argumentasi diperlukan pengungkapan ide-ide agar dapat mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain (Keraf: 2007). Model Point CounterPoint merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan menulis argumentasi. Dengan PCP siswa dituntut untuk mengeluarkan pendapatnya disertai dengan fakta dan alasannya. Dalam makalah ini dibahas mengenai pelaksanaan pembelajaran menulis argumentasi dengan menggunakan model Point Counter Point.

Kata kunci: menulis argumentasi, model Point Counter Point

A. Pendahuluan
Berbahasa adalah proses interaktif komunikatif yang menekankan pada aspek-aspek keterampilan bahasa. Tanpa bahasa, seseorang tidak dapat mengungkapkan apa yang ada di pikirannya secara jelas dan komunikatif, sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap orang pasti memiliki kemampuan berbahasa guna menunjang komunikasinya sehari-hari. Hal senada didukung oleh Chomsky (dikutip Sunarto dan Hartono, 2006: 14) yang menyatakan “setiap orang dilahirkan ke dunia telah memiliki kapasitas berbahasa.”Aspek-aspek keterampilan berbahasa tersebut adalah keterampilan menyimak (listening skills), keterampilan berbicara (speaking skills), keterampilan membaca (reading skills), dan keterampilan menulis (writing skills) (Tarigan, 1994:1).
Dewasa ini keterampilan menulis sangatlah penting sebab keterampilan menulis merupakan keterampilan yang dominan dalam proses pembelajaran di sekolah. Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang produkif sehingga dengan menulis siswa dapat menghasilkan sesuatu yang berupa pesan ataupun informasi kepada orang lain. Senada dengan hal tersebut Tarigan menyebutkan bahwa keterampilan menulis jelas sangat dibutuhkan dalam kehidupan di era globalisasi saat ini, bahkan tidak terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa keterampilan menulis merupakan suatu ciri dari orang terpelajar atau bangsa yang terpelajar (Tarigan, 1994: 4).
Menulis bukanlah suatu proses sekali jadi. Misalnya dalam pengungkapan ide atau pendapat, seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyampaikan apa yang dimaksudkannya dalam tulisan dibanding secara lisan. Pengungkapan ide atau pendapat dalam bahasa Indonesia inilah yang dikenal dengan argumentasi. Secara lengkap, seperti yang diungkapkan oleh Keraf (2007:3) yang menyatakan karangan argumentasi adalah:

“suatu bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan penulis.”

Melalui argumentasi, penulis berusaha merangkaikan fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga ia mampu menunjukkan apakah suatu pendapat atau suatu hal tertentu itu benar atau tidak.
Dalam pembelajaran keterampilan menulis khususnya di kelas VIII sekolah menengah pertama terdapat satu materi, yakni menulis karangan argumentasi. Masalah penulisan karangan argumentasi ini sering muncul yakni pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam menulis (mengarang). Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru bahasa Indonesia SMPN 19 Palembang, ditemukan kelemahan siswa dalam menulis berkenaan dengan hal-hal sebagai berikut: (1) tidak sesuainya antara topik dan isi tulisan; (2) belum dapat menuangkan gagasan atau pikiran dengan baik ke dalam kalimat; (3) belum ada keterkaitan antarkalimat; (4) sering terdapat kalimat dengan ide yang tumpang tindih dan rancu; (5) belum ada koherensi antarparagraf; (6) penggunaan ejaan dan tanda baca yang tidak tepat.
Berdasarkan pemaparan tersebut, masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana menulis argumentasi dengan menggunakan model pembelajaran Point CounterPoint.
Makalah ini juga bertujuan untuk memaparkan bagaimana pembelajaran menulis argumentasi dengan menggunakan model pembelajaran Point CounterPoint.
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi guru dalam mengajar, terutama menulis argumentasi. Selain itu pembelajaran menulis argumentasi dengan menggunakan model Point CounterPoint juga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis argumentasi agar lebih produktif lagi.

B. PEMBAHASAN
1. Pembelajaran Menulis Argumentasi
Menulis bukanlah merupakan suatu proses sekali jadi. Menuangkan gagasan secara tertulis dapat dianalogikan dengan merangkai bunga atau membingkiskan kado untuk orang lain. Rangkaian bunga atau bingkisan kado mewujudkan sesuatu yang jadi, utuh, dan lengkap. Demikian juga bila kita membingkiskan suatu gagasan, bingkisan gagasan itu harus merupakan tulisan yang jadi, utuh, dan lengkap. Tentu saja proses menuangkan gagasan ini berkaitan erat dengan suatu proses kreatif yang banyak melibatkan cara berpikir dalam otak kita. Oleh karena itu, dalam menulis dibutuhkan latihan-latihan yang berkelanjutan dan terus- menerus agar keterampilan menulis tersebut dapat terasah dengan baik.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang menuntut kemampuan penggunaan pola-pola bahasa untuk mengungkapkan suatu gagasan, perasaan, pesan dengan menggunakan bahasa tulis sebagai medianya. Gagasan dan pikiran inilah yang diharapkan dapat terungkap dengan lebih baik lagi oleh siswa setelah diterapkannya metode dalam penelitian ini.
Menurut Keraf (1995:6-7) berdasarkan tujuannya, karangan-karangan yang utuh dapat dibedakan atas: (1) eksposisi; (2) argumentasi; (3) persuasi; (4) deskripsi; (5) narasi. Hal senada juga dijelaskan oleh Suparna dan Yunus (2008:1.11) yang menyebutkan bahwa karangan dapat disajikan dalam lima bentuk atau ragam wacana: deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi. Akan tetapi yang akan dibahas dalam penelitian ini hanya karangan argumentasi.
Karangan argumentasi ialah karangan yang terdiri atas paparan alasan dan penyintesisan pendapat untuk membangun suatu kesimpulan. Melalui karangan argumentasi penulis berusaha menunjukkan fakta-fakta dan memberikan alasan, untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan (Keraf, 2003: 13)
Dalam penelitian ini digunakan teknik pembelajaran menulis argumentasi dengan menggunakan model Point CounterPoint. Pemilihan model Point Counter Point dapat dipandang sebagai usaha untuk meningkatkan hasil pembelajaran menulis karangan argumentasi siswa karena lebih menekankan pada kekreatifan siswa dalam memecahkan suatu permasalahan yang disajikan, lalu diungkapkan berdasarkan pikiran atau gagasan mereka masing-masing dalam bentuk karangan argumentasi.

2. Model Point CounterPoint
a. Konsep model Point Counter Point
Model Point CounterPoint (PCP) merupakan model pembelajaran dengan teknik hebat untuk merangsang diskusi dan mendapatkan pemahaman lebih mendalam tentang berbagai isu yang kompleks ( Hamruni, 2011: 164). Format PCP ,mirip dengan sebuah perdebatan namun tidak terlalu formal dan berjalan lebih cepat.
Suprijono ( 2011: 99) juga menyebutkan bahwa model pembelajaran Point CounterPoint merupakan metode yang dipergunakan untuk mendorong peserta didik berpikir dalam berbagai perspektif. Oleh karena itu yang harus diperhatikan lebih lanjut yaitu mengenai materi pelajaran. Suatu cara
dalam proses pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa
untuk aktif berargumen (mengajukan ide-ide, gagasan) dari persoalan yang
muncul atau sengaja dimunculkan dalam pembelajaran sesuai dengan
aturan-aturan yang ada.
Dalam hal ini materi pelajaran yang digunakan untuk merangsang diskusi peserta didik ialah mengenai isu-isu kontroversi yang memiliki paling sedikit dua perspektif. Artinya setiap materi yang akan didiskusikan memiliki dua sudut pandang yang berbeda, contohnya mengenai isu G30S/ PKI.
Adapun pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran ini yaitu:
1) Pilihlah sebuah masalah yang mempunyai dua perspektif (sudut pandang) atau lebih,
2) Bagilah kelas menjadi beberapa kelompok menurut jumlah perspektif yang telah ditetapkan dan mintalah tiap kelompok mengungkapkan dan mendiskusikan alasan-alasan yang melandasi sudut pandang masing-masing tim. Doronglah mereka bekerja dengan partner tempat duduk atau kelompok-kelompok inti yang kecil,
3) Tiap-tiap kelompok menuliskan argument mereka terhadap isu yang sedang didiskusikan bersama kelompok masing-masing,
4) Gabungkan kembali seluruh kelas tetapi mintalah para anggota dari tiap kelompok untuk duduk bersama dengan jarak antara sub-sub kelompok,
5) Jelaskan bahwa peserta didik bisa memulai perdebatan. Setelah itu peserta didik mempunyai kesempatan menyampaikan sebuah argument yang sesuai dengan posisi yang telah ditentukan. Teruskan diskusi tersebut dengan bergerak cepat maju mundur di antara kelompok,
6) Simpulkan kegiatan tersebut dengan membandingkan isu-isu yang selama ini berkembang. Berikan reaksi dan diskusi lanjutan.
7) Di penghujung waktu pelajaran buatlah evaluasi sehingga peserta didik dapat mencari jawaban sebagai titik temu dari argumentasi-argumentasi yang telah mereka munculkan.

b. Kelebihan Model Point CounterPoint
Model Point CounterPoint memiliki beberapa keunggulan diantaranya yaitu dengan perdebatan yang sengit akan mempertajam hasil pembicaraan. Dengan demikian siswa akan semakin terampil berbicara dan mengeluarkan pendapatnya terhadap isu yang dibicarakan. Selain itu siswa juga semakin terampil dalam menyanggah pendapat temannya dengan menggunakan alasan-alasan yang cukup relevan.
Kedua, segi permasalahan dapat disajikan, yang memiliki ide dan yang mendebat /menyanggah sama-sama berdebat untuk menemukan hasil yang lebih tepat mengenai suatu masalah. Siswa akan saling mengasah pikiran masing-masing untuk memperkuat alasan meraka dalam mempertahankan argumentasinya.
Ketiga siswa dapat terangsang untuk menganalisa masalah di dalam kelompok, asal terpimpin sehingga analisa itu terarah pada pokok permasalahan yang dikehendaki bersama. Hal ini disebabkan seringkali terjadi pergeseran terhadap pokok permasalahan yang sedang dibicarakan dalam setiap berdebat ataupun berdiskusi.
Keempat, dalam pertemuan debat itu siswa dapat menyampaikan fakta dari kedua sisi masalah; kemudian di teliti fakta mana yang benar / valid dan bisa di pertanggung jawabkan. Siswa tidak hanya melihat sebuah fakta dari satu sisi saja melainkan sisi lain sehingga argumen mereka dapat dipertanggungjawabkan.
Kelima, karena terjadi pembicaraan aktif maka akan membangkitkan daya tarik untuk turut berbicara; turut berpartisipasi mengeluarkan pendapat.
Tujuan penerapan strategi pembelajaran Point Counterpoint adalah
untuk melatih peserta didik agar mencari argumentasi yang kuat dalam
memecahkan suatu masalah yang aktual di masyarakat sesuai posisi yang
diperankan.

C. Penutup
1. Kesimpulan
Dunia pendidikan yang semakin maju tidak bisa lepas dari peran masyarakat yang kompleks. Oleh karena itu perlu adanya sebuah terobosan baru dalam rangka pembaharuan dan modernisasi dalam pendidikan. Tanpa pendidikan yang memadai maka akan sulit kiranya bagi masyarakat manapun untuk mencapai tujuan dan keinginan untuk menuju peradaban yang lebih maju.
Pembaharuan dan modernisasi dalam pendidikan dilakukan dalam rangka meningkatkan peran aktif siswa. Peran aktif siswa sangat penting dalam rangka pembentukan generasi yang kreatif, yang mampu menghasilkan sesuatu untuk keentingan dirinya dan orang lain. Kreatif juga dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan masing-masing siswa.
Model PCP ialah model pembelajaran yang digunakan untuk merangsang daya pikir siswa untuk mengeluarkan pendapatnya serta mempertahankan argumennya. Model ini dilaksanakan dengan membagi siswa menjadi beberapa kelompok besar. Siswa diberikan sebuah isu yang memiliki banya sudut pandang dan sisi lain yang belum diungkap. Kemudian masing-masing kelompok membahas isu tersebut dengan sudut pandang mereka sendiri. Siswa diberikan waktu untuk kemudian berdiskusi dan menuangkan hasil diskusi mereka dalam sebuah lembar jawaban yang akan dipaparkan didepan kelas.
Setelah semua kelompok selesai dengan diskusi mereka, masing-masing kelompok berkesempatan memaparkan hasil diskusi mereka didepan kelas. Setelah hasil diskusi dipaparkan, anggota kelompok lain boleh menyanggah pendapat dari kelompok lain dengan menyertakan fakta dan alasan yang telah dibicarakan dengan kelompok. Setelah semua hasil diskusi dipaparkan beserta alasan dan fakta yang dapat mendukung argumen mereka dikemukakan, guru dan siswa menyimpulkan hasil diskusi terhadap isu tersebut.
Pembelajaran dengan menggunakan model Point Counter Point merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk lebih meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis terutama menulis argumentasi. Model ini dapat dikatakan tepat karena dilihat dari langkah-langkah pembelajarannya sendiri yang cenderung melibatkan siswa secara aktif dalam mengeluarkan pendapat serta menyanggah pendapat siswa lain dengan memberikan alasan yang relevan sesuai dengan fakta-fakta yang telah dipaparkan dari hasil diskusi.
Selain itu dengan menggunakan model pembelajaran Point Counter Point ini, siswa dilatih untuk mengungkap sisi lain dari isu yang dibicarakan. Dengan demikian siswa yang memiliki cara pandang sendiri terhadap sebuah isu dapat mengeluarkan pendapatnya secara aktif. Adapun dengan banyaknya sudut pandang yang diungkapkan siswa membuat isu yang dibicarakan semakin menarik dan tidak keluar dari pokok permasalahan yang sebenarnya. Fokus siswa pun lebih tajam dan siswa pun dapat saling berkompetisi dengan sehat.
Model PCP diharapkan mampu menumbuhkembangkan sikap kompetitif, komunikatif serta kerja sama antar siswa. Selain itu model ini juga menuntut siswa untuk mengeluarkan pandangan mereka megenai isu yang dibicarakan dengan menuangkan hal tersebut kedalam sebuah karangan argumentasi. Dengan demikian siswa semakin terlatih untuk menulis terutama karangan argumentasi.

DAFTAR PUSTAKA

Hisyam Zaini, Bermawy Munthe, Sekar Ayu Aryani. 2007. Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta: CTSD.
Keraf, Gorys. 1995. Dari Narasi sampai Argumentasi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Roestijah. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sunarto, B. Agung Hartono. 2006. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Depdikbud dan PT. Rineka Cipta
Suparna dan Yunus. 2008. Keterampilan Dasar Menulis. Jakarta: Depdikbud
Suprijono, Agus. 2011. Cooperative Learning; Teori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tarigan, Henry Guntur. 1994. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa

KKM Kelas 8 Semester 1

PERINDIKATOR, KOMPETENSI DASAR,  STANDAR KOMPETENSI, DAN MATA PELAJARAN

Nama Sekolah                :      SMP Negeri 12 Palembang

Mata Pelajaran               : Bahasa Indonesia

Kelas/Semester              : VIII / 1

Standar Kompetensi      :    Mendengarkan

1,  Memahami wacana  lisan berbentuk laporan

 

No.

Kompetensi Dasar / Indikator

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria Penentuan

KKM

Indikator

KKM

Kompetensi

Dasar

KKM

Standar

Kompetensi

KKM

Mata

Pelajaran

Tingkat

Kesulitan

Materi

Sarana

Pendukung

Tingkat Kemampuan

Siswa

Jumlah

Skor

1.

1.1   Meng­­­ana­lisis laporan

Siswa

1. Mampu menuliskan  pokok-pokok laporan

yang diperdengarkan dengan kalimat singkat

2. Mampu menganalisis pola urutan waktu atau

ruang dalam laporan yang diperdengarkan.

 

 

 

1.2   Me­nang­gapi isi laporan

1.  Mampu menanggapi laporan perjalanan

teman dengan mengajukan pertanyaan atau

pendapat

2.  Mampu membrikan masukan terhadap

laporan perjalana teman.

 

 

Mengetahui,

Kepala SMPN 12 Palembang

 

 

 

Supriyadi, S.Pd

NIP. 196201111987031003 Palembang,    Agustus  2012

Guru Mapel Bhs Indonesia.

 

 

 

L I a n a, S.Pd

NIP.197505142008012005

 PENENTUAN KRITERIA  KETUNTASAN  MINIMAL (KKM) 

PERINDIKATOR, KOMPETENSI DASAR, STANDAR KOMPETENSI, DAN MATA PELAJARAN

 

 

 Nama Sekolah                :      SMP  Negeri 12 Palembang

Mata Pelajaran               : Bahasa Indonesia

Kelas/Semester              : VIII / 1

Standar Kompetensi      :     Berbicara

2. Megungkap berbagai informasi melalui wawancara dan presentasi laporan

 

No.

Kompetensi Dasar / Indikator

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria Penentuan

KKM

Indikator

KKM

Kompetensi

Dasar

KKM

Standar

Kompetensi

KKM

Mata

Pelajaran

Tingkat

Kesulitan

Materi

Sarana

Pendukung

Tingkat Kemampuan

Siswa

Jumlah

Skor

2.

2.1   Ber­wa­wan­­cara de­ngan nara­sumber dari berbagai kalangan dengan perhatikan etika ber­wawancara

1.             Mampu menyebutkan pengertian wawancara.

2. Mampu menjelaskan etika wawancara yang

baik.

3. Mampu menyebutkan jenis pertanyaan yang

dapat dibuat pewawancara

4. Mampu membuat daftar pertanyaan untuk

wawan-cara.

5.  Mampu melakukan wawancara dengan nara-

sumber

 

 

 

 

 

 

 

Mengetahui,Kepala SMPN 12 Palembang

 

 

 

Supriyadi, S.Pd

NIP. 196201111987031003

  Palembang,    Agustus  2012Guru Mapel Bhs Indonesia.

 

 

 

L I a n a, S.Pd

NIP.197505142008012005

 

 

 

 

 

 

 

PENENTUAN KRITERIA  KETUNTASAN  MINIMAL (KKM)

PERINDIKATOR, KOMPETENSI DASAR, STANDAR KOMPETENSI, DAN MATA PELAJARAN

 

 

 

 Nama Sekolah                 :     SMP  Negeri 12 Palembang

Mata Pelajaran                 :     Bahasa Indonesia

Kelas/Semester                :     VIII / 1

Standar Kompetensi       :     Berbicara

  1. Megungkap berbagai informasi melalui wawancara dan presentasi laporan

 

No.

Kompetensi Dasar / Indikator

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria Penentuan

KKM

Indikator

KKM

Kompetensi

Dasar

KKM

Standar

Kompetensi

KKM

Mata

Pelajaran

Tingkat

Kesulitan

Materi

Sarana

Pendukung

Tingkat Kemampuan

Siswa

Jumlah

Skor

2.2  Menyampaikan laporan secara lisan dengan

bahasa yang baik dan benar

1.   Mampu mencatat pokok-pokok laporan

berdasarkan pola urutan waktu, ruang atau

topik

2. Mampu menyampaikan laporan secara lisan

 

 

 

 

 

 

Mengetahui,Kepala SMPN 12 Palembang

 

 

 

Supriyadi, S.Pd

NIP. 196201111987031003

  Palembang,    Agustus  2012Guru Mapel Bhs Indonesia.

 

 

 

L I a n a, S.Pd

NIP.197505142008012005

 

 

 

 

 

 

 

PENENTUAN KRITERIA  KETUNTASAN  MINIMAL (KKM)

PERINDIKATOR, KOMPETENSI DASAR, STANDAR KOMPETENSI, DAN MATA PELAJARAN

 

Nama Sekolah                  :     SMP Negeri 12 Palembang

Mata Pelajaran                  :     Bahasa Indonesia

Kelas/Semester                 :     VIII / 1

Standar Kompetensi        :    Membaca

3.   Memahami ragam wacana tulis dengan membaca memindai,  membaca cepat

 

No.

Kompetensi Dasar / Indikator

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria Penentuan

KKM

Indikator

KKM

Kompetensi

Dasar

KKM

Standar

Kompetensi

KKM

Mata

Pelajaran

Tingkat

Kesulitan

Materi

Sarana

Pendukung

Tingkat Kemampuan

Siswa

Jumlah

Skor

3.

3.1. Menemukan informasi secara cepat dan tepat dari ensiklopedi / buku telepon dengan membaca memindai

1.   Mampu menemukan subjek informasi secara cepat dan tepat.

2.   Mampu menemukan informasi secara cepat dan tepat.

3.  Mampu mengemukakan kembali informasi itu

dengan bahasa sendiri.

3.2.  Mendeskripsikan tempat atau arah dalam konteks yang sebenarnya sesuai dengan yang tertera dalam denah.1.   Mampu menuliskan pengertian pe-tunjuk.

2.   Mampu membaca arah mata angin.

3.        Mampu menulis pengertian denah

4.   Mampu membaca, denah.

5.   Mampu mendeskripsikan rute Per-jalanan yang pailng mudah ke arah tempat yang dituju sesuai denah

6.   Mampu membuat denah.

 

 

 

 

 

Mengetahui,Kepala SMPN 12 Palembang

 

 

 

Supriyadi, S.Pd

NIP. 196201111987031003

  Palembang,    Agustus  2012Guru Mapel Bhs Indonesia.

 

 

 

L I a n a, S.Pd

NIP.197505142008012005

 

 

 

PENENTUAN KRITERIA  KETUNTASAN  MINIMAL (KKM) 

PERINDIKATOR, KOMPETENSI DASAR, STANDAR KOMPETENSI, DAN MATA PELAJARAN

Nama Sekolah                  :     SMP Negeri 12 Palembang

Mata Pelajaran                  :     Bahasa Indonesia

Kelas/Semester                 :     VIII / 1

Standar Kompetensi        :    Membaca

  1. Memahami ragam wacana tulis dengan membaca memindai,  membaca cepat

No.

Kompetensi Dasar / Indikator

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria Penentuan

KKM

Indikator

KKM

Kompetensi

Dasar

KKM

Standar

Kompetensi

KKM

Mata

Pelajaran

Tingkat

Kesulitan

Materi

Sarana

Pendukung

Tingkat Kemampuan

Siswa

Jumlah

Skor

  .3.3. Menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca

cepat 250 kata permenit.

1.   Mampu menjelaskan cara membaca  membaca cepat.

2.   Mampu mengukur / menghitung kecepatan membaca diri sendiri / teman  dengan metode tertentu.

3.   Mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan sesuai teks bacaan.

4.  Mampu menentukan ide pokok tiap paragrap teks bacaan

5.  Mampu menyimpulkan isi teks bacaan

 

 

 

 

Mengetahui,Kepala SMPN 12 Palembang

 

 

 

Supriyadi, S.Pd

NIP. 196201111987031003

  Palembang,    Agustus  2012Guru Mapel Bhs Indonesia.

 

 

 

L I a n a, S.Pd

NIP.197505142008012005

 

 

 

 

 

 

 

PENENTUAN KRITERIA  KETUNTASAN  MINIMAL (KKM) 

PERINDIKATOR, KOMPETENSI DASAR, STANDAR KOMPETENSI, DAN MATA PELAJARAN

Nama Sekolah                  :     SMP  Negeri 12 Palembang

Mata Pelajaran                  :     Bahasa Indonesia

Kelas/Semester                 :     VIII / 1

Standar Kompetensi        :     Menulis

4. Mengungkapkan informasi dalam bentuk laporan, surat dinas, dan petunjuk

 

No.

Kompetensi Dasar / Indikator

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria Penentuan

KKM

Indikator

KKM

Kompetensi

Dasar

KKM

Standar

Kompetensi

KKM

Mata

Pelajaran

Tingkat

Kesulitan

Materi

Sarana

Pendukung

Tingkat Kemampuan

Siswa

Jumlah

Skor

4

4.1 Mwnulis laporan dengan menggunakan bahasa

ang baik dan benar

1.  Mampu menyebut kan  pengertian laporan

2.  Manpu menyebutkan pokok-pokok laporan

2.  Mampu menulis kerangka laporan

3.  Mampu menuliskan  kerangka laporan  ke

dalam beberapa paragraf

4.  Mampu  menyunting  kebali tulisan sendiri

dengan memperhatikan penggunaan ejaan

dan tanda  baca.

4,2  Menulis surat dinas berkenaan de­ngan kegi­atan

sekolah dengan sis­te­matika yang  tepat  dan

bahasa baku

1. Mampu menyebutkan pengertian surat dinas

2. Mampu menentukan sistematika surat dinas

3. Mampu  menuli  surat dinas dengan bahasa

Baku

4. Mampu menyunting surat dinas

 

 

 

 

Mengetahui,Kepala SMPN 12 Palembang

 

 

 

Supriyadi, S.Pd

NIP. 196201111987031003

  Palembang,    Agustus  2012Guru Mapel Bhs Indonesia.

 

 

 

L I a n a, S.Pd

NIP.197505142008012005

 

 

 

 

 

PENENTUAN KRITERIA  KETUNTASAN  MINIMAL (KKM)

 PERINDIKATOR, KOMPETENSI DASAR, STANDAR KOMPETENSI, DAN MATA PELAJARAN

 

 

Nama Sekolah                  :     SMP Negeri 12 Palembang

Mata Pelajaran                  :     Bahasa Indonesia

Kelas/Semester                 :     VIII / 1

Standar Kompetensi        :    Menulis

  1. Mengungkapkan informasi dalam bentuk laporan, surat dinas, dan petunjuk

No.

Kompetensi Dasar / Indikator

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria Penentuan

KKM

Indikator

KKM

Kompetensi

Dasar

KKM

Standar

Kompetensi

KKM

Mata

Pelajaran

Tingkat

Kesulitan

Materi

Sarana

Pendukung

Tingkat Kemampuan

Siswa

Jumlah

Skor

4.3   Menulis petunjuk me­lakukan sesu­atu dengan urutan yang tepat dan meng­guna­kan bahasa yang efektif

1.  Mampu mendata urutan melakukan sesuatu

2. Mampu menyimpulkan ciri-ciri bahasa

petuntuk

3. Mampu menulis petunjuk dengan bahasa

yang efektif

4. Menyunting bahasa petunjuk

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengetahui,Kepala SMPN 12 Palembang

 

 

 

Supriyadi, S.Pd

NIP. 196201111987031003

  Palembang,    Agustus  2012Guru Mapel Bhs Indonesia.

 

 

 

L I a n a, S.Pd

NIP.197505142008012005

 

 

 

 

 

 PENENTUAN KRITERIA  KETUNTASAN  MINIMAL (KKM) 

PERINDIKATOR, KOMPETENSI DASAR, STANDAR KOMPETENSI, DAN MATA PELAJARAN

 

Nama Sekolah                  :     SMP Negeri 12 Palembang

Mata Pelajaran                  :     Bahasa Indonesia

Kelas/Semester                 :     VIII / 1

Standar Kompetensi        :     Mendengarkan

  1. Mengapresiasi pementasan drama

 

No.

Kompetensi Dasar / Indikator

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria Penentuan

KKM

Indikator

KKM

Kompetensi

Dasar

KKM

Standar

Kompetensi

KKM

Mata

Pelajaran

Tingkat

Kesulitan

Materi

Sarana

Pendukung

Tingkat Kemampuan

Siswa

Jumlah

Skor

5

 

5.1 Menanggapi unsur pementasan naskah drama

1. Mampu mengapreseasi drama yang diperdengarkan

2. Mampu menceritakan kembali isi drama

3. Mampu menentukan unsur-unsur pementasan drama

4. Mampu menanggapi  tiap-tiap unsur denganalasan  logis

 
5.2 Mengapreseasi  peran tokoh dalam  pementasan drama

1. Mampu  menyebut kan latar/ tempat yang terdapat  dalam naskah drama.

2. Mampu menjelaskan karakter tia- tiap tokoh

3. Mampu  mengevaluasi pemeran tokoh dengan  alasan yang logis

 

 

 

 

 

Mengetahui,Kepala SMPN 12 Palembang

 

 

 

Supriyadi, S.Pd

NIP. 196201111987031003

  Palembang,    Agustus  2012Guru Mapel Bhs Indonesia.

 

 

 

L I a n a, S.Pd

NIP.197505142008012005

 

 

 

 

 

 

 PENENTUAN KRITERIA  KETUNTASAN  MINIMAL (KKM) 

PERINDIKATOR, KOMPETENSI DASAR, STANDAR KOMPETENSI, DAN MATA PELAJARAN

Nama Sekolah                  :     SMP  Negeri 12 Palembang

Mata Pelajaran                  :     Bahasa Indonesia

Kelas/Semester                 :     VIII / 1

Standar Kompetensi        :     Berbicara

  1. Mengungkapkan pikiran dan perasaan dengan bermain peran

 

No.

Kompetensi Dasar / Indikator

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria Penentuan

KKM

Indikator

KKM

Kompetensi

Dasar

KKM

Standar

Kompetensi

KKM

Mata

Pelajaran

Tingkat

Kesulitan

Materi

Sarana

Pendukung

Tingkat Kemampuan Siswa

Jumlah

Skor

6

 

Bermain peran sesuai dengan naskah yang ditulis siswa

1.  Mampu  menentukan nama tokoh dalam   drama

2.  Mampu  menentukan karakter tokoh dalam naskah yang telah ditulis  siswa

3.  Mampu memerankan tokoh sesuai karakter yang  dituntut dengan lafal yang jelas dan intonasi yang  tepat

 

        Bermain pe­ran dengan cara  impro­vi­sasi sesuai de­ngan ke­rangk-a nas­kah yang di­tulis oleh sis­wa1. Mampu menentukan karakter to­koh

2. Mampu berimprovisasi berdasar­kan kerangka

naskah

 

 

 

 

 

Mengetahui,Kepala SMPN 12 Palembang

 

 

 

Supriyadi, S.Pd

NIP. 196201111987031003

  Palembang,    Agustus  2012Guru Mapel Bhs Indonesia.

 

 

 

L I a n a, S.Pd

NIP.197505142008012005

 

 

 

 

 

 

 

 

PENENTUAN KRITERIA  KETUNTASAN  MINIMAL (KKM) 

PERINDIKATOR, KOMPETENSI DASAR, STANDAR KOMPETENSI, DAN MATA PELAJARAN

Nama Sekolah                  :     SMP  Negeri 12 Palembang

Mata Pelajaran                  :     Bahasa Indonesia

Kelas/Semester                 :     VIII / 1

Standar Kompetensi        :     Membaca

                                               7. Memahami teks drama dan novel remaja

 

No.

Kompetensi Dasar / Indikator

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria Penentuan

KKM

Indikator

KKM

Kompetensi

Dasar

KKM

Standar

Kompetensi

KKM

Mata

Pelajaran

Tingkat

Kesulitan

Materi

Sarana

Pendukung

Tingkat Kemampuan

Siswa

Jumlah

Skor

7

 

7.1 Mengidentifikasi unsur intrinsik drama

1.  Mampu menyebutkan pengertian drama                            2.  Mamapu menyebutkan jenis-jenis drama

3.  Mampu menyebutkan unsur-unsur intrisik teks

drama

4.  Mampu menganalisis unsur-unsur teks drama

5 . Mampu mendiskusikan keterkaitan antar unsur

intrinsik

6.  Mampu menyunting  naskah teks drama

 

7.2 Membuat sinopsis  novel  remaja Indonesia

1. Mampu  menjelaskan pengertian novel

2. Mampu  menuliskan unsur-unsur novel

3. Mampu  menganalisis berdasarkan unsu- unsur yang    terdapat dalam novel tersebut

4. Mampu menulis sinopsis novel

 

 

 

Mengetahui,Kepala SMPN 12 Palembang

 

 

 

Supriyadi, S.Pd

NIP. 196201111987031003

  Palembang,    Agustus  2012Guru Mapel Bhs Indonesia.

 

 

 

L I a n a, S.Pd

NIP.197505142008012005

 

 

 

 

 

 

 

 

PENENTUAN KRITERIA  KETUNTASAN  MINIMAL (KKM)

PERINDIKATOR, KOMPETENSI DASAR, STANDAR KOMPETENSI, DAN MATA PELAJARAN

 

Nama Sekolah                  :     SMP  Negeri 12 Palembang

Mata Pelajaran                  :     Bahasa Indonesia

Kelas/Semester                 :     VIII / 1

Standar Kompetensi        :    Menulis

8. Mengungkapkan pikiran dan perasaan melalui kegiatan menulis kreatif naskah drama

No.

Kompetensi Dasar / Indikator

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Kriteria Penentuan

KKM

Indikator

KKM

Kompetensi

Dasar

KKM

Standar

Kompetensi

KKM

Mata

Pelajaran

Tingkat

Kesulitan

Materi

Sarana

Pendukung

Tingkat Kemampuan

Siswa

Jumlah

Skor

  8  8.1 Menulis kreati nas­kah drama sa­tu babak denganmem­perhatikan  keaslian ide

1.  Mampu menyusun kerangka nas­kah drama

yang mengandung ke­aslian ide.

2.  Mampu mengembangkan ke­rang­ka cerita

Menjadi  teks drama satu babak yang

mengandung keas­li­an ide.

8.2 Menulis kreatif  nas­kah drama sa­tu babak de­ngan mem­perhatikan kaidah penu­lisan naskah

drama

1,  Mampu menyusun   kerangka cerita drama.

2.  Mampu menulis naskah drama satu babak

berdasarkan kerangka cerita drama dengan

memperha-tikan kaidah penulisan naskah

drama

Mengetahui,Kepala SMPN 12 Palembang

 

 

 

Supriyadi, S.Pd

NIP. 196201111987031003

  Palembang,    Agustus  2012Guru Mapel Bhs Indonesia.

 

 

 

L I a n a, S.Pd

NIP.197505142008012005

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Pembelajaran Sastra sebagai Pendidikan Karakter

Akhir-akhir ini, pendidikan karakter banyak dan sering menjadi pembahasan berbagai kalangan, terutama kalangan pendidikan. Hal ini terdorong oleh adanya fakta bahwa siswa sebagai produk pendidikan belum kuat secara kemanusiaan, serta kepribadiannya masih lemah sehingga mudah terpengaruh oleh hal-hal dari luar. Selain itu, semangat untuk belajar, berdisiplin, beretika, bekerja keras, dan sebagainya kian menurun. Peserta didik banyak yang tidak siap untuk menghadapi kehidupan sehingga dengan mudah meniru budaya luar yang negatif, terlibat di dalam amuk massa, melakukan kekerasan di sekolah atau kampus, dan sebagainya. Meningkatnya kemiskinan, menjamurnya budaya korupsi, munculnya plagiarisme, menguatnya politik uang, dan sebagainya merupakan cerminan dari kehidupan yang tidak berkarakter kuat untuk menuju bangsa yang berperadaban maju.

upacara kebangkitan nasional

Pendidikan yang ada selama ini dianggap gagal dalam membentuk karakter siswa. Selama ini pendidikan hanya berorientasi pada angka/nilai semata. Padahal, dalam UU Sisdiknas tahun 2003, Bab II, pasal 3, jelas disebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pendidikan memang bukanlah sekadar transfer pengetahuan (transfer of knowledge), tapi alat wahana pembentukan kepribadian (character building), mulai dari pola pikir, kejiwaan dan pola tingkah laku (attitude). Oleh sebab itu, muncullah kesadaran tentang perlu dikembangkannya kembali pendidikan karakter di sekolah. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menanamkan pendidikan karakter adalah melalui pembelajaran apresiasi sastra. Pembelajaran apresiasi sastra mampu dijadikan sebagai pintu masuk dalam penanaman nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral, seperti kejujuran, pengorbanan, kepedulian sosial, cinta tanah air, psikologis, demokrasi, santun, dan sebagainya, banyak ditemukan dalam karya-karya sastra. Baik puisi, cerita pendek, novel, maupun drama. Hal ini tentu dapat dikaitkan dengan fungsi utama sastra yaitu memperhalus budi, peningkatan rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial, penumbuhan apresiasi budaya, penyaluran gagasan, penumbuhan imajinasi, serta peningkatan ekspresi secara kreatif dan konstruktif.

Dalam kurikulum disebutkan bahwa tujuan pembelajaran sastra dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia antara lain adalah menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Melalui apresiasi sastra, siswa dapat mempertajam perasaan, penalaran, daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan kehidupannya.

Dengan membaca sastra, pembaca akan bertemu dengan bermacam-macam orang dengan bermacam-macam masalah. Melalui sastra, pembaca diajak berhadapan dan mengalami secara langsung kategori moral dan sosial dengan segala parodi dan ironinya. Ruang yang tersedia dalam karya sastra itu membuka peluang bagi pembaca untuk tumbuh menjadi pribadi yang kritis pada satu sisi, dan pribadi yang bijaksana pada sisi lain. Pribadi yang kritis dan bijaksana ini bisa terlahir karena pengalaman seseorang membaca sastra telah membawanya bertemu dengan berbagai macam tema dan latar serta berbagai manusia dengan beragam karakter. Sastra dalam banyak hal memberi peluang kepada pembaca untuk mengalami posisi orang lain, yang menjadikannya berempati kepada nasib dan situasi manusia lain. Melalui sastra,  seseorang dapat  mengalami menjadi seorang dokter, guru, gelandangan, tukang becak, ulama, ronggeng, pencuri, pengkhianat, pengacara, rakyat kecil, pejabat, dan sebagainya.

Meski sifatnya fiktif, dalam setiap karya sastra terkandung tiga muatan: imajinasi, pengalaman, dan nilai-nilai. Melalui kegiatan apresiasi sastra, kecerdasan siswa dipupuk hampir dalam semua aspek. Apresiasi sastra melatih kecerdasan intelektual (IQ), misalnya dengan menggali nilai-nilai intrinsik dalam karya sastra, seperti tema, amanat, latar, tokoh, dan alur cerita. Juga mengembangkan kecerdasan emosional (EQ) siswa, misalnya sikap tangguh, berinisiatif serta optimis menghadapi persoalan hidup, dan sebagainya. Hal ini dapat terjadi karena sastra merupakan cerminan kehidupan masyarakat dengan segala problem kehidupannya. Mempelajari sastra berarti mengenal beragam kehidupan beserta latar dan watak tokoh-tokohnya. Membaca kisah manusia yang bahagia dan celaka, serta bagaimana seorang manusia harus bersikap ketika menghadapi masalah, akan menuntun siswa untuk memahami nilai-nilai kehidupan. Sedangkan sastra dapat mengembangkan kecerdasan spiritual (SQ) tentu tak dapat pula kita mungkiri. Bukankah banyak kita temukan karya sastra yang bertema religius? Misalnya, sekedar contoh, puisi Padamu Jua (Amir Hamzah), cerpen Robohnya Surau Kami (A.A. Navis), dan sebagainya. Karya sastra dengan tema-tema religius semacam ini akan menuntun siswa lebih memahami hubungan antara manusia dengan Tuhannya.

Namun begitu, upaya di atas tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Pembelajaran sastra yang relevan untuk pengembangan karakter peserta didik adalah pembelajaran yang memungkinkan peserta didik tumbuh kesadaran untuk membaca dan menulis karya sastra yang akhirnya mampu meningkatkan pemahaman dan pengertian tentang manusia dan kemanusiaan, mengenal nilai-nilai, mendapatkan ide-ide baru, meningkatkan pengetahuan sosial budaya, berkembangnya rasa dan karsa, serta terbinanya watak dan kepribadian. Oleh karena itu, apresiasi sastra akan tumbuh sesuai dengan harapan bilamana guru Bahasa dan Sastra Indonesia juga menyukai sastra. Karena itu, guru Bahasa dan Sastra Indonesia harus memiliki minat baca karya sastra yang tinggi. Bukankah karya-karya sastra banyak tersebar di sekitar kita? Dengan kekayaan bacaan yang dimiliki, tentu guru akan lebih mampu untuk memilih bahan ajar yang tepat bagi siswa. Sebab tidak semua karya sastra dapat digunakan sebagai bahan ajar di kelas. Karya sastra yang dapat dijadikan bahan ajar hendaknya memenuhi kriteria yang sesuai untuk siswa, yakni bahasanya indah, mengharukan pembacanya, membawakan nilai-nilai luhur kemanusiaan, serta mendorong manusia untuk berbuat baik. Di sinilah peran guru sebagai kunci keberhasilan pembelajaran dipertaruhkan.***